Friday, January 23, 2009

DUA MODEL PEMBELAJARAN YANG INOVATIF


PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN STAD DAN TGT PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SMP
Oleh: Iwan Sumantri, S.Pd

A. Pendahuluan
Saat ini, pembelajaran inovatif yang akan mampu membawa perubahan belajar bagi siswa, telah menjadi barang wajib bagi guru. Pembelajaran lama telah usang karena dipandang hanya berpusat pada metode mulut. Siswa sangat tidak nyaman dengan metode mulut. Sebaliknya, siswa akan nyaman dengan pembelajaran yang sesuai dengan pribadi siswa saat ini.
Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-fasilitas media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.
B. Latar Belakang
Pembelajaran kooperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai mahluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggungjawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyataan itu, belajar kelompok secara kooperatif, siswa dilatih dan biasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggungjawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerjasama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa heterogen (kemampuan, gender,karakter), ada kontrol dan fasilitasi, dan meminta tanggungjawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Pada pembelajaran matematika di kelas, belajar matematika dengan kerja kelompok adalah kelompok kerja yang kooperatif lebih dari kompetitif, meskipun pada suatu keadaan khususnya hal tersebut dapat terjadi. Pada kegiatan ini kelompok siswa belajar dengan porsi utama adalah mendiskusikan tugas-tugas matematika yang diberikan gurunya, saling membantu menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah. Kegiatan kelompok kooperatif terkait dengan banyak pendekatan atau metode, seperti eksperimen, investigasi, eksplorasi, dan pemecahan masalah.

Banyak macam kegiatan belajar berkelompok atau kerja kelompok. Diskusi dan pengembangan komunikasi untuk saling belajar dan menyampaikan pendapat merupakan hal yang dituntut dan sekaligus dipelajari. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang mengakar di masyarakat, tetapi tanpa pendidikan dan pelatihan hasil yang secara intuitif tidak sebanyak jika direncanakan. Beberapa Model Pembelajaran diantaranya : (1) Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning/Problem Based Instruction) meliputi (a) Means-End Anallysis (b) Creative Problem Soving (c) Double Loop Problem Solving (2) Model Pembelajaran Langsung (3) Model Pembelejaran Kooperatif diantaranya (a) Circle Of Learning/Belajar Bersama , (b) Grup Penyelidikan/Group Investigation; (c) Co-op-co-op; (d) Jigsaw, (e) Numbered Heads Together/NHT; (f) Student Teams-Achievement Division /STAD; (g) Team Assisted-Individualization atau Team Accelareted Instruction/TAI; (h) Teams Games-Tournament /TGT dan yang lainnya.
Berikut ini akan disajikan perbandingan dua model pembelajaran kooperatif tipe STAD ( Student Teams-Achievement Divisions) dan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team-Game-Turnament). Dua dari bentuk pembelajaran kooperatif yang menurut penulis setaraf adalah STAD dan TGT. Kedua metode ini juga merupakan bentuk pembelajaran kooperatif yang paling banyak diaplikasikan dalam mata pelajaran-mata pelajaran yang ada di SMP, karena memiliki kemiripan. Untuk itulah maka penulis memilih kedua pembelajaran kooperatif tersebut
C. Model Pembelajaran Kooperatif

1. STAD (Student Teams Achievement Division)
STAD adalah salah satu model pembelajaran kooperatif dengan sintaks adalah sebagai berikut:
- Pengarahan
- Buat kelompok heterogen (4-5 0rang) campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dll)
- Diskusikan bahan belajar-LKS-Modul secara kolaboratif
- Sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas
- Guru memberi kuisi individual /pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
- Membuat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward
- Kesimpulan
Menurut Robert E Slavin dan kawan-kawan , model CL tipe STAD terdiri dari 5 komponen (fase) , yakni :
1. Presentasi Kelas (Class presentation)
2.
Pembentukan tim (Teams)
3.
Kuis Individu (Individual Quizzes)
4.
Perubahan skor individu (Individual improvement score)
5.
Pengakuan tim (Team recognition)
Model ini sangat cocok untuk menyajikan materi pembelajaran terstruktur, yang terdiri dari beberapa bagian dan saling berhubungan antar bagian-nya. Misalnya seorang guru akan menyajikan pokok materi/ bahasan yang tertruktur terdiri atas 4 sub pokok materi/ bahasan A, B, C dan D. Artinya, sebelum dapat mempelajari sub B, siswa harus menguasai sub A, sebelum mempelajari sub c, siswa harus sudah menguasai sub A dan sub B, demikian seterusnya untuk sub D.
Langkah-langkah :
Fase 1 : Guru pSeni SeniGuru di depan kelas, menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari, misalnya konsep, materi secara garis besar dan prosedur kegiatan (eksperimen).
Guru juga perlu menjelaskan tata cara kerjasama dalam kelompok, terutama kepada kelompok atau kelas yang belum terbiasa menjalankan model CL.
Fase 2 : Guru membentuk kelompok, berdasarkan kemampuan (prestasi sebelumnya), jenis kelamin, ras dan etnik. Jumlah anggota tiap kelompok antara 4-5 orang siswa
Fase 3 : Bekerja dalam kelompok, Siswa belajar bersama, diskusi, menjawab soal atau mengerjakan eksperimen sesuai LKS yang diberikan guru
Fase 4 : Scafolding. Guru melakukan bimbingan kepada kelompok atau kelas
Fase 5 : Validation. Guru mengadakan validasi hasil kerja kelompok dan memberikan kesimpulan hasil tugas kelompok
Fase 6 : Quizzes. Guru mengadakan kuis secara individual. Hasil nilai yang diperoleh tiap anggota, dikumpulkan, kemudian dirata-rata dalam kelompok, untuk menentukan predikat kelompok. Dalam menjawab quiz, anggota tidak boleh saling membantu. Perubahan skor awal (base score) individu dengan skor hasil quiz disebut skor perkembangan. Penghitungan skor perkembangan sebagai berikut :
Tabel 1 : Nilai Penghargaan Kelompok (Penghitungan skor Perkembangan)
NO
SKOR TES
NILAI PERKEMBANGAN
1.
Lebih dari 20 poin di atas skor awal
30
2
Sama atau hingga 10 poin di atas skor awal
20
3
Sepuluh hingga satu poin di bawah skor awal
10
4
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
5
Fase 7 : Penghargaan kelompok : Berdasarkan skor penghitungan yang diperoleh anggota, dirata-rata. Hasilnya untuk menentukan predikat tim (lihat Tabel 2)
Tabel 2 : Perolehan Skor dan Predikat Tim Tipe STAD
NO
PREDIKAT TIM
RATA-RATA SKOR
1
Super Team
25 - 30
2
Great Team
20 - 24
3
Good team
15 - 19
Fase 8 : Evaluasi oleh guru
Persiapan yang harus dilakukan guru jika akan menggunakam model pembelajaran STAD:
1.Persiapan : Lembar Kerja Siswa (LKS)
  1. 2.Persiapan Lembar Pertanyaan Quiz dan lembar jawab.
  2. 3.Sediakan Tabel nilai Konversi perubahan skor awal dengan skor hasil kuis individu
  3. 4.Sediakan tanda penghargaan/ sertifikat sederhana
  4. 5.Validasi kelas, bimbingan terhadap kelompok dan individu
2. TGT (Teams Games Tournament)
Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda, Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerjasama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamika kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskusi nyaman dan menyenangkan seperti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kleompok sajikan hasil kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan atau dalam rangka mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian rapor. Dengan sintaksnya sebagai berikut:
-
Buat kelompok siswa heterogen 4-5 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan mekanisme kegiatan
-
Siapkan meja turnament secukupnya, misal 10 meja untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, Meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesepakatan kelompok.
-
Selanjutnya adalah pelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu tertentu ( misal 3 menit). Siswa bisa mengerjakan lebih dari satu soal dan hasilnya diperiksa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnament untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja turnament sesuai dengan skor yang diperolehnya diberikan sebutan (gelar) superrior, very good, good, medium.
-
Bumping, pada turnament kedua begitu juga untuk turnament ketiga-keempat dst), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnament sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnament yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.
-
Setelah selesai hitunglah skor tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.
Model pembelajaran kooperatif melalui suatu turnamen, lebih banyak dipilih karena waktu relatif lebih singkat dan cara melakukannya relatif lebih mudah dibanding STAD. Untuk kelas-kelas di Indonesia, fase-fase TGT dikembangkan dari empat menjadi delapan, sebagai berikut :
Fase 1 : Penjelasan guru (Teacher presentation).
Pada fase ini, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, pokok materi dan penjelasan singkat tentang LKS yang dibagikan kepada kelom-pok.
Fase 2 : Pembagian kelompok
Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok berdasarkan krite-ria kemampuan (prestasi) siswa dari pretest atau ulangan harian sebelumnya, jenis kelamin (gender), etnik dan ras. Tiap kelompok beranggotakan 4– 5 orang (Slavin, 1998).
Fase 3 : Kerja kelompok (Team study)
Setelah menerima LKS dari guru, siswa bekerjasama dalam kelompok masing-masing, diskusi, praktikum atau menjawab soal-soal pada LKS.
Fase 4 : Bimbingan kelompok/ kelas (Scafolding)
Guru membimbing kerja kelompok, mengamati psikomotorik dan sikap siswa secara individual dalam kerja kelompok
Fase 5 : Tournament (Quizzes)
Guru membagikan lembar soal tournament (quizzes). Jumlah soal turnamen antara 10 – 30 butir soal. Aturan main tournamen model TGT adalah sebagai berikut :
1.
Setiap kelompok menentukan salah satu anggota sebagai Reader (pembaca soal kuis turnamen) pertama dan pembaca kunci jawaban. Pembaca soal ke dua, ke tiga dan seterusnya digilir berurutan searah dengan putaran jarum jam. Pembaca kunci jawaban adalah siswa yang posisi duduknya di sebelah kanan reader.
2.
Kesempatan pertama menjawab soal kuis turnamen diberikan kepada reader, selanjutnya giliran menjawab bagi anggota kelom-pok yang lain searah putaran jarum jam.
3.
Jika semua anggota kelompok menjawab benar, siswa yang memperoleh point adalah siswa pertama yang menjawab benar.
4.
Turnamen berlanjut, sampai semua soal sudah dibacakan. Kemu-dian perolehan skor masing-masing anggota dihitung berdasarkan jumlah jawaban benar sekaligus untuk perhitungan skor kelompok
Fase 6 : Validation
Guru melakukan validasi, penjelasan tentang soal dan kunci jawaban kuis. Tujuannya adalah memperkuat pemahaman siswa terhadap materi pem-belajaran.
Fase 7 : Penghargaan kelompok (Team recognition)
Setelah diperoleh skor tiap anggota pada masing-masing kelompok, kemudian diadakan rekapitulasi nilai dan ditentukan skor kelompok menggunakan Tabel 3 ( Penghitungan skor kelompok) di bawah ini :
Skor kelompok pada model TGT minimal 190 dan skor maksimal 210 (untuk pemain 5 orang).
Tabel 3 : Penghitungan Skor Kelompok
Jumlah Anggota
Penghitungan skor kelompok
2
60 40
20 40
3
60 50 60 40
40 50 30 40
20 20 30 40
4
60 50 60 60 50 60 40 50
40 50 40 40 50 30 40 50
30 30 40 30 50 30 40 30
20 20 20 30 20 30 40 30
5
60
50
60
60
60
50
60
60
40
50
40
50
60
50
50
50
50
50
40
50
50
50
40
50
40
40
40
50
40
50
50
50
40
40
40
30
40
50
40
30
40
40
40
40
40
30
50
40
30
30
30
30
30
30
40
30
40
40
40
40
30
30
30
30
20
20
20
20
30
20
20
30
30
40
40
20
30
30
30
30
Untuk menentukan penghargaan kelompok, menggunakan Tabel 4 berdasarkan skor rata-rata kelompok.
Tabel 4 : Skor Penghargaan Kelompok Tipe TGT
NO
PEROLEHAN SKOR RATA-RATA
PREDIKAT
1
45 atau lebih
Super Team
2
40 – 44
Great Team
3
30 - 39
Good Team
Fase 8 : Evaluasi oleh guru
Persiapan yang harus dilakukan guru jika akan menggunakam model pembelajaran TGT:
  1. Lembar Kerja Siswa (LKS)
  2. Lembar Soal Kuis (atau berupa kartu soal)
  3. Lembar kunci jawaban
  4. Lembar format rekap skor individu
  5. Lembar format rekap skor kelompok
  6. Alat dan bahan praktik (jika ada kegiatan eksperimen/ demonstrasi)
3. Perbandingan antara Model Pembelajaran STAD dan TGT
a. Pada Model Pembelajaran tipe STAD
1). Bagian esensial dari model ini adalah adanya kerjasama anggota kelompok dan kompetensi antar kelompok. Siswa bekerja di kelompok untuk belajar dari temannya serta mengajar temannya.
2). STAD menggunakan kuis-kuis individual pada tiap akhir pelajaran
3). Untuk STAD bisa menggunakan jumlah soal berapa saja
4). Gagasan utama dari STAD adalah untuk memotivasi siswa supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Jika para siswa ingin agar timnya mendapat penghargaan tim, mereka harus membantu teman satu timnya untuk mempelajari materinya.
5). Sebagian guru memilih STAD karena murni bersifat kooperatif saja.
b. Pada Model Pembelajaran tipe TGT
1) TGT menekankan adanya kompetisi, kegiatannya seperti STAD, tetapi kompetisi dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan antar anggota tim dalam suatu bentuk turnament
2). TGT menggunakan game-game akademik pada akhir pelajaran
3). Untuk TGT, jumlah soal dalam permainan/kuis harus tiga puluh, karena ini adalah nomor kartu yang digunakan dalam permainan TGT
4). TGT memiliki banyak kesamaan dinamika dengan STAD, tetapi menambahkan dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lainnya, tetapi sewaktu siswa sedang bermain dalam game temannya tidak boleh membantu, memastikan telah menjadi tanggungjawab individual.
5). Sebagian guru lebih memilih TGT karena faktor menyenangkan dan kegiatannya.
D. Kesimpulan Dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mencoba memberikan alasan penetapan atas dua model Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tersebut yang pada intinya pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kepekaan kita kepada orang lain, dengan alasan-alasan sebagai berikut:
a. Kedua Model Pembelajaran tersebut terdiri dari komponen utama yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, rekognisi tim yang pada pelaksanaannya setara/mirip yang membedakan hanya satu hal: TGT menggunakan turnament akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerjaakedemik setara mereka.
b. Kedua Model Pembelajaran tersebut dalam pelaksanaanya memiliki suatu kerjasama yang baik diantara siswa dalam memecahkan permasalahan yang ada dengan membebaskan siswa tersebut dalam mengemukakan pendapat dan ide-idenya.
c. Kedua Model Pembelajaran tersebut dapat membantu para siswa untuk meningkatkan sikap positif dalam pembelajaran matematika
d. Kedua Model Pembelajaran tersebut dapat membuat siswa untuk menerima setiap pendapat dari siswa lain sehingga mengurangi rasa minder akan siswa yang kurang pengetahuannya
e. Kedua Model Cooperative Learning tersebut dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
f. Kedua Model Cooperative Learning tersebut dapat berjalan efektif, apabila guru mampu membuat perencanaan pembelajaran yang baik, meliputi persiap an bahan ajar, skenario kegiatan pembelajaran dan pengaturan kelompok secara konsekuen.
g. Penentuan tipe model Cooperative Learning yang efektif harus disesuai-kan dengan struktur materi pembelajaran/ pokok bahasan
2. Catatan :
a. Siswa perlu dikondisikan belajar mandiri secara kelompok melalui kerja-sama
b. Perlu dilakukan suatu penelitian tindakan kelas (action research) tentang pengaruh tipe model pembelajaran cooperative learning terhadap peningkatan prestasi belajar siswa

E. Daftar Pustaka
Al.Krismanto (2003). Beberapa Teknik, Model, dan Strategi Dalam Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Depdiknas Dirjen Dikdasmen PPPG Matematika
Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2002, Pendekatan Kontekstual (Contexrual Teaching and Learning (CTL). Dit.PLP, Ditjen Dikdasmen, Jakarta
Fadjar Shadiq (2005). Teknik dan Strategi Pembelajaran Matematika (Bahan Ajar Diklat Guru Matematika SMK). Depdiknas Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan
Mel Siberman (1996). Aktive Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif.Insani Madani Slamic Publisher.
Robert E.Slavin (2008). Cooperative Learning, Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media
Sugiyanto (2008). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 13. Surakarta
Suyatno ( 2008 ). Model-model Pembelajaran Inovatif untuk Digunakan Guru. http://garduguru.blogspot.com/
_________________(2004). Model-model Pembelajaran Alternatif. Diktat Sosioalisasi KBK 2004.

1 comment:

MUIZ KU said...

terimaksih atas komennya.........
doa'kan saja ..........