Sunday, May 29, 2016

#BahagiadiRumah Ala Guru Matematika

#BahagiadiRumah Ala Guru Matematika
Oleh: Iwan Sumantri

Berbicara bahagia tentunya relatif untuk mendefinisikannya. Karena ukuran bahagia untuk tiap orang akan berbeda-beda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Pengertian ini tentunya bisa dijadikan indikator bagi seseorang yang bahagia.

Berikut saya akan mencoba berbagi #BahagiadiRumah dalam ajang Blog Competition #BahagiadiRumah NOVAVERSARY (Ulang Tahun NOVA ke 28 tahun ).  28 Tahun keberadaan NOVA bukanlah rentang waktu yang singkat, seperti halnya keberadaan keluarga kami yang sudah 22 tahun terbina dalam bahtera keluarga dengan seorang isteri dan dua anak. 

Selayang Pandang Kehidupan Sebelum Berkeluarga

Saya terlahir dari keluarga  yang kurang harmonis, 49 tahun yang lalu. Kedua orang tua saya  sudah berpisah  sejak saya usia 2 tahun. Sejak usia itulah saya di rawat dan menjalani hidup dengan kakek dan uwa perempuan sampai  dengan sekarang. Di Usia 17 tahunlah saya baru mengetahui dengan dekat sosok seorang ibu kandung. Banyak hal yang bisa saya dapatkan dari perjalanan hidup tanpa orang tua kandung.
Pelajaran yang berharga dalam hidup tanpa sosok seorang perempuan yang telah melahirkan kita.Ya…seorang ibu yang kasih sayangnya setulus hati, tanpa mengenal lelah, dan selalu mendekap kita di kala kita haus dan lapar. Itu semuanya tak dapat saya rakasan. Yang ada hanyalah kasih sayang orang tua angkat yang secara kemanusian rasa kasih sayangnya berbeda dengan orang tua kandung sendiri.

Saya masuk SD pada tahun 1976 . SD yang saya masuki adalah SD swasta yang ada disekitar Cibadak yang sering di sebut Taman Muda yang dikelola oleh Yayasan Perguruan Tamansiswa. Dari SD tersebut saya melanjutkan ke tingkat SMP nya yaitu Taman Dewasa. Selama 9 tahun saya belajar ke Tamansiswaan Sejak duduk dari SD itulah mulai tumbuh keinginan dan cita-cita untuk menjadi guru. Setelah lulus dari SMP, keinginan saya adalah bisa masuk di SMA. Sayang orang tua angkatku tak mengijinkan untuk sekolah di SMA, terlalu banyak mengeluarkan biaya dan tak bisa langsung kerja, itulah alasannya.

Tak menyurutkan semangatku untuk bisa sekolah, saya masuk Sekolah Teknik di kota Sukabumi. Salah satu sekolah teknik negeri yang favorit sampai sekarang. Saya masuk jurusan listrik. Alhamdulilah selama 3 tahun berturut-turut saya mendapatkan beasiswa Supersemar, lumayan bisa membantu orang tua angkat untuk membiayai sekolah sehari-hari.
Masa Muda Mencari Kebahagiaan (Foto Dok.Pribadi)
Tahun 1987 saya lulus dari STM Negeri Kota Sukabumi jurusan listrik. Cita-cita jadi guru semakin menggebu ketika itu, sayang tak bisa melanjutkan kuliah karena keadaan ekonomi orang tua angkat. Tapi, Allah SWT memberi jalan ketika itu. Sekolah tempatku dulu waktu SD menawarkan untuk menjadi pembina pramuka. Singkat cerita dari situlah awal saya menjadi guru. Sedikit demi sedikit saya belajar dan memberikan materi kepramukaan di dalam kelas. Di kegiatan kepramukaan saya digembleng agar menjadi sosok guru yang berkarakter. Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka telah memberikan pembelajaran hidup yang berharga dalam perjalan hidup saya. Akhirnya dari hasil menjadi pembina pramuka itulah saya bisa melanjutkan belajar di PGSMTP.  Dengan kemurahan ibu ketua yayasan saya (Almarhum Ibu Juniati Suhada) mengeluarkan  SK mengajar, resmilah saya menjadi sosok guru muda yang perlu belajar untuk menjadi sosok guru yang unggul.  Dari PGSMTP saya melajutkan lagi ke D-2 UT sampai bisa kuliah di perguruan tinggi dan mendapatkan gelar kependidikan S.Pd. Belum banyak prestasi yang bisa saya torehkan waktu itu, selain jadi guru kelas, PKS Kesiswan, PKS Kurikulum dan Ketua Bidang Pendidikan di Yayasan Perguruan Tamansiswa Cabang Cibadak.

Hari demi hari kehidupan mengalir seperti air, tepat hari Sabtu, tanggal 14 Agustus 1994 tepat di hari ulang tahun gerakan kepramukaan, saya menikah dengan sosok perempuan yang sampai dengan sekarang setia mendampingi  saya. Dari sosok perempuan inilah saya mengenal wanita. Dua anak sudah saya  di karunia bersamanya. Satu  perempuan dan satu lagi anak laki-laki (Krani Pratiwi dan Hammam Pratama Putra). Dari hidup dan keseharian inilah saya bisa belajar memaknai sosok seorang perempuan. Yah…dua sosok perempuan yang berharga dalam kehidupanku, yaitu Yani Sumanti sang isteriku, yang telah setia dan mengabdi selama 22 tahun dan putriku Krani Pratiwi yang sudah memasuki usia 21 tahun pada tanggal 3 Juni 2016 yang sekarang sedang belajar di UPI jurusan psikologi semester 6, dan putra bungsu kami Hammam Pratama Putra yang sekarang ini duduk di kelas VIII di SMPN 3 Cibadak tempat mengabdiku sekarang.

Kurang lebih 17 tahun saya mengabdi menjadi guru Yayasan di Tamansiswa Cabang Cibadak, banyak hal yang saya dapatkan dari Tamansiswa, mulai dari mengenal sosok Suwardi Suryaningrat yang lebih terkenal dengan Ki Hajar Dewantara dengan ajaran sistem Amongnya yang menjadi semboyan dunia pendidikan kita yaitu Tut Wuri Handayani. Membaca biografi dan sepak terjang Ki Hajar Dewantara saya semakin termotivasi untuk menjadi guru unggul dengan membaca dan belajar dari guru-guru senior yang ada di Tamansiswa.

Tahun 2004, saya mencoba keberuntungan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Alhamdulilah pada saat pengumuman nama saya muncul. Tapi nasib menentukan lain waktu itu, di agenda setelah wawancara saya “digugurkan” dari CPNS karena alasan saya mengajar di sekolah swasta. Sakit dan sempat depresi waktu itu, bisa dibayangkan bagaimana suasana, kondisi dan perasaan yang saya alami ketika itu. Tapi dengan kesabaran dan menerima dengan ikhlas saya jalani keputusan itu. Satu tahun saya berintropeksi diri, belum waktunya mungkin untuk menjadi PNS.

Tahun 2005, tahun yang bersejarah buat saya, karena di tahun itulah sencoba dan berupaya kembali mengikuti seleksi PNS. Akhirnya dengan ridho Allah SWT, saya menjadi CPNS dengan tugas pertama kali di SMP Negeri 2 Simpenan kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi.

Dua tahun saya mengabdi dan bertugas di SMP Negeri 2 Simpenan yang berjarak 65 km dari rumah tinggal. Di SMP Negeri 2 Simpenen, saya belum bisa menjadi guru yang berprestasi dan membanggakan buat diri pribadi maupun keluarga.
1 Juli 2007, saya mutasi ke SMP Negeri 3 Cibadak. Sebuah sekolah yang letaknya dekat dengan rumah, kurang lebih 2 km dari rumah. SMP Negeri 3 Cibadak adalah sekolah yang cukup besar, nyaman, dan megah. Di SMP Negeri 3 inilah saya mulai “berprestasi” .

Tahun 2008 menjadi salah satu guru yang mendapatkan sertifikasi melalui jalur pendidikan dengan belajar selama 1 tahun di Universitas Negeri Yogyakarta. Tahun 2014 dan 2016 ini menjadi guru berprestasi peringkat I tingkat Kabupaten Sukabumi. Prestasi yang cukup membanggakan buat saya, karena tidak semua guru di Indonesia bisa mendapatkannya. Belajar selama 1 tahun di Universitas Negeri Yogyakarta telah merubah pola berpikir saya selaku guru, dari berpikir instan menjadi berpikir kritis dan kreatif. Semakin banyak ilmu yang saya dapatkan di UNY ketika itu. Mulai dari bagaimana proses pembelajaran dengan meggunakan metode, model,media dan cara mengajar yang inovatif.  Dari UNY inilah saya mengenal dunia maya melalui internet, salah satunya adalah bagaimana pembelajaran melalui blog.

Pelajaran Hidup Seorang Guru dari dua Bidadari Rumah

Berbicara perempuan, pasti banyak hal yang bisa kita uraikan dari berbagai sisi, seperti yang di uraikan oleh para pakar dan blogger, mengulas dunia perempuan memang tak pernah membosankan. Sejak isu kesetaraan mulai diperjuangkan, kehidupan perempuan telah  mengalami berbagai kemajuan. Sekarang, perempuan bisa bekerja di berbagai ruang kehidupan. Buah karya perempuan telah ramai mengisi keseharian kita. Perempuan adalah mahluk yang tak dapat didefinisikan secara konkrit, banyak hal dan penilaian tentang perempuan tergantung dari sisi mana kita mendefinisikannya.

Berikut saya akan mengulas tentang sosok perempuan  dari keseharian hidup yang saya jalani sekarang ini (selama 22 tahun )

Dua Bidadari Pemberi Kebahagiaan di rumah (Foto dok.Pribadi)

1. Dari Sang Isteri:
  • Rasa benci dan marah kepada orangtuaku yang sudah melahirkan karena tidak merawatku bisa luluh dan hilang , sejak isteriku melahirkan dan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Bagimana perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya. Benar-benar perjuangan dan usaha dalam mempertaruhkan nyawanya. Tak ada perjuangan yang bisa mengalahkan usaha dan upaya sang ibu melahirkan anaknya. Disinilah tumbuh dan menyadarkan saya untuk berbakti kepada kedua orang tua kandungku. Tak akan ada saya, jika ibuku tak melahirkanku.
  • Hati seorang perempuan penuh dengan kasih sayang yang tulus. Hanya keadaan dan lingkungan serta keterpaksaan yang bisa merubahnya.
  • Kecantikan Perempuan tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kemuliaan akhlak dan perilakunya.
  • Jangan menyalahkan perasaan istri Anda karena perasaannya yang terbaik ialah ketika ia menerima anda sebagai suaminya.
  • Perempuan adalah bintang dan pelita bagi lelaki. Tanpa pelita, lelaki akan bermalam dalam kegelapan
  • Pudarlah kebahagiaan seorang Perempuan jika ia tidak mampu menjadikan suaminya teman yang termulia
  • Tidak mungkin seorang lelaki hidup bahagia tanpa didampingi oleh istri yang mulia.
  • Perempuan hidup untuk berbahagia dengan cinta, sementara lelaki mencintai untuk hidup berbahagia.
  • Kebijaksanaan Perempuan terletak di dalam hatinya.
  • Perempuan tidak diciptakan untuk dikagumi semua lelaki tetapi sebagai sumber kebahagiaan seorang suami.
  • Dan Perempuan adalah salah satu ciptaan mahluk Tuhan yang agung karena perempuan melahirkan sebuah sebutan panggilan “Ibu”
  • Bagaimana rasanya jadi orang tua dari seorang anak perempuan. Ibarat kita memiliki dan memegang telur yang kuningnya. Perempuan adalah mutiara yang terindah yang dimiliki orang tua
  • Kasih sayang seorang anak perempuan terhadap orang tuanya penuh dengan rasa ke- ibuan
  • Rasa sayang pada ibu kandung tumbuh dengan sendirinya, manakala kita melihat dan merasakan sendiri bagaimana perjuangan melahirkan putriku oleh sang isteri. Benar-benar pembelajaran hidup berharga yang di rasakan dari sosok anak perempuan dalam keseharian hidup.

Untuk mengingatkan kita tentang sosok ” IBU” saya mencoba  berbagi video dibawah ini (Sumber:Youtube.com) :



2. Dari Sang Putriku

  • Bagaimana rasanya jadi orang tua dari seorang anak perempuan. Ibarat kita memiliki dan memegang telur yang kuningnya. Perempuan adalah mutiara yang terindah yang dimiliki orang tua
  • Kasih sayang seorang anak perempuan terhadap orang tuanya penuh dengan rasa ke- ibuan
  • Rasa sayang pada ibu kandung tumbuh dengan sendirinya, manakala kita melihat dan merasakan sendiri bagaimana perjuangan melahirkan putriku oleh sang isteri. Benar-benar pembelajaran hidup berharga yang di rasakan dari sosok anak perempuan dalam keseharian hidup.

Secuil cerita dan pandangan serta pelajaran hidup  yang saya dapatkan dari perempuan (dua bidadari) yang ada dalam keseharian yang  telah menghiasi kehidupan keluargaku. Apapun yang tersampaikan yang pasti menurut saya, Perempuan ada untuk melengkapi yang tak ada pada lelaki mulai dari perasaan, emosional, lemahlembut, pengertian, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk melahirkan dan semua hal-hal yang kadang dianggap sepele oleh kaum lelaki.

Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk lelaki, karena perempuan adalah bagian dari lelaki, apa yang menjadi bagian dari hidupnya, akan menjadi bagian dari hidup lelaki. karena engkau dan dia adalah satu, dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya.
Terimakasih buat Ibu, Isteriku, Putriku serta keluargaku semuanya, yang pada akhirnya saya menemukan kebahagian itu ada di rumah.

Sang Buah Hati pelengkap Kebahagian Keluarga (Foto Dok.Pribadi)

#BahagiadiRumah Ala Guru Matematika

Orang bisa merasakan bahagia manakala orang tersebut pernah mengalami rasa tak bahagia tentunya, sebab dengan demikian kita akan bisa merasakan dan membandingkan perbedaannya. Itulah hal yang bisa saya utarakan, ternyata bahagia itu kompleks.

Bahagia di rumah, bisa terwujud manakala hal-hal berikut bisa dilakukan :

  • 1) Ketika kita berada di rumah bersama keluarga memiliki target dan tujuan
  • 2) Selalu tersenyum
  • 3) Bisa berbagi kebahagian dengan anggota keluarga dan yang lainnya
  • 4) Memiliki kemauan dalam keluarga untuk menolong orang lain
  • 5) Memperoleh kebaikan dari berbagai orang (anggota keluarga maupun orang lain)
  • 6) Memelihara rasa humor dikeluarga
  • 7) Tetap tenang pada saat menerima keterkejutan
  • 8) Dapat memaafkan atau saling memaafkan antar anggota keluarga atau orang lain
  • 9) Jadikan anggota keluarga teman sejati
  • 10) Selalu bekerja dalam team untuk menyelesaikan ppermasalahan
  • 11) Menikmati kebersaam dalan keluarga\
  • 12) Memiliki percaya diri masing-masing anggota keluarga dan dapat menghargai diri sendiri
  • 13) Memiliki respek terhadap yang lemah
  • 14) Mengkuti kata hati sendiri
  • 15) Memiliki keberanian
  • 16) Bekerja dan belajar dari waktu ke waktu
  • 17) Terakhir, dalam hidup ini jangan jadikan UANG ebagai segala-galanya.
Kebersamaan Bersama Keluarga (Foto Dok.Pribadi)



Ternyata bahagia di rumah itu perlu perjalanan  panjang untuk bisa dinikmati dan di bagikan kepada orang lain. 
Semoga #Bahagia di Rumah Ala Guru Matematika ini bisa bermanfaat dan menjadikan bahan renungan buat kita dalam menggapai makna BAHAGIA dalam berkeluarga.


8 comments:

ika sukmawati said...

Tips bahagia yang bermanfaat dan inspiratif Pka Guru !

Iwan Sumantri said...

@Ika Sukmawati: Makasih bu atas apresiasinya...semoga bisa bermanfaat dan merasakannya #BahagiadiRumah !

Diah said...

Postingan yang panjang, tapi bernas berisi pelajaran hidup yang bermanfaat. Terima kasih sudah berbagi ya pak. Terima kasih juga sudah ikut berkunjung dan berkomentar di blog saya http://batikmania.blogspot.co.id/2016/05/sabtu-off-itu-bahagia-di-rumah.html

Iwan Sumantri said...

@Mba Diah: Makasih atas apresiasinya...walau panjang semoga bermanfaat untuk pembelaajaran hidup...#BahagiadiRumah itu relatif tergantung orangnya !

Lidha Maul said...

Subhanallah, bahagianya dapat dua bidadari yang benar-benar memberikan kesejukan dalam rumah sampai2 bisa menerima masa silam. Barakah

Iwan Sumantri said...

@Ibu Lidha Naul: makasih atas apresiasinya..itulah slah satu #Bahagiadirumah..ada dua bidadari di runah yg selalu jadi penghangat dan motivasi utk selalu dirumah !

Krani Pratiwi said...

#BahagiadiRumah....sebuah ungkapan yg menginspirasi kita-kita yg jauh dari rumah karena harus berjuang untuk meraih cita-cita !
Sangat menyentuh Pak Guru isi artikelnya !
Semoga sukses lombanya !

Iwan Sumantri said...

@Krani P : Makasih atas apresiasinya...semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan bagaimana #BhagiadiRumah itu ! Semoga saja sukses lombanya !