Wednesday, June 22, 2016

SPD (Selalu Pergi Diklat) Karena “DEKAT” dengan Orang DINAS

SPD (Selalu Pergi Diklat) Karena “DEKAT” dengan Orang  DINAS
Oleh: Iwan Sumantri

Bersama Pak Kadis Provinsi Jabar 
Yang Terhormat Pak Menteri

Teriring salam dan sejahtera saya buat Pak Menteri, semoga Bapak selalu sehat  dalam menjalankan tugas amanah bangsa.

Berikut ini saya mencoba  mengulas dan menyampaikan sesuatu yang saya rasakan untuk bahan masukan di dunia pendidikan tentang keberadaan Diklat/Pelatihan bagi Guru .

Saya dan tentunya guru-guru dinegeri ini berharap mendapat pelatihan diklat yang bisa  meningkatkan kompetensi kami dilapangan. Tapi asa dan harapan itu hanya sebatas pengharapan saja….Diklat dan pelatihan biasanya hanya bagi mereka (para guru) yang dekat dan kenal dengan orang-orang penting di DINAS Pendidikan, bukan karena kompetensi yang dimiliki guru tersebut untuk ikut diklat (asal tunjuk dan kirim).  Tak sedikit dan sudah umum ada guru yang spesialis diklat tiap bulannya karena kedekatan mendapat tugas dari DINAS Pendidikannya…gurunya itu-itu saja !

Makanya muncul kesenjangan antara guru yang selalu diklat/pelatihan dengan yang tidak pernah sama sekali. Saya jadi prihatin. Padahal kesempatan itu sebaiknya sama terlepas dari mampu dan tidaknya guru melaksanakan diklat/pelatihan. Hal inilah yang mungkin berimbas pada hasil UKG yang kurang memuaskan dan untuk para PNS bertumpuknya guru di golongan IVa karena pengembangan dirinya kurang (bahkan tidak ada sama sekali).

Tak sedikit hasil pelatihan/diklat tak berimbas pada guru-guru lain di lapangan,
Dari fenomena tersebut, saya berharap dan usul bisa disikapi oleh Pak Menteri beserta jajarannya.
Terimakasih.


Monday, June 20, 2016

Surat Buat Pak Menteri !

Refleksi Seorang Guru Di Daerah !
oleh : Iwan Sumantri

Yth. Pak Menteri
Saya adalah seorang guru yang mengajar,mendidik dan melatih para siswa sejak tahun 1988 disekolah swasta Tamansiswa sampai dengan 2015. Alhamdulilah sekarang saya mengajar di sekolah Negeri sejak diangkat jadi PNS tahun 2005.

Mengamati,merasakan dan mengalami fenomena pendidikan akhir-akhir ini saya merasa prihatin dan ikut bertanggungjawab, ada apa dengan pendidikan kita. Para guru selalu jadi sasaran dan bahan gunjingan di masyarakat ketika ada anak didik kita merokok, tawuran, kriminal, pembunuhan,pelecehan seksual dan hal lainnya….semua yang jadi masalah selalu di lontarkan pada guru. Apa apa dengan pendidkan kita sekarang ini?

Mungkinkah karena ada kesalahan dalam pemberian gaji PNS? Tanggal 1 tiap bulannya para PNS sudah mendapatkan gajih. Padahal kewajiban PNS untuk melaksanakan tugasnya belum sepenuhnya dilaksanakan. Mungkinkah gaji PNS ini bisa tidak jadi “barokah” yang dampaknya pada tugas guru mengajar,mendidik dan melatihnya tidak sepenuh hati? Atau pendidikan kita terlalu menganut paham luar negeri yang dirasakan lebih “Wah” mulai dari strategi,metode,model pembelajaran,teknik,dan lainnya yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. Atau kita punya “dosa” yang meremehkan dan meyepelekan ajaran-ajaran pendahulu kita, salah satunya seperti ajaran Ki Hajar Dewantara dengan “sistem Among”nya (Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani) yang sudah dilupakan oleh para guru saat ini. Atau ada hal lain…dimana pendidikan sudah mulai dimasukkan unsur “ Bisnis” untung dan rugi di dalamnya….atau ada “orang-orang” yang didalamnya tak sepenuh hati untuk mendidik,mengajar dan melatih anak-anak kita di negeri ini.

Pak menteri itulah “Refleksi diri saya sekarang ini” semoga ada solusi kedepannya, yang pada akhirnya anak-anak kita jadi generasi emas di negeri ini !